Iklan

📢 Pasang Iklan Disini

Geliat Atraktif Taruno Adi Luhung SMAN 1 Babadan Tampil Spektakuler Guncang Panggung FNRP 2026

Seputar Ponorogo
Minggu, 14 Juni 2026
Last Updated 2026-06-13T18:36:53Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Pasang Iklan di Sini
Jangkauan luas, harga terjangkau
📲 Hubungi via WhatsApp
Penampilan group reog Manggala Wiyata yang mendapatkan aplous banyak dari penonton

PONOROGO - intik hujan yang sempat membasahi tanah dan menyisakan hawa dingin di kawasan Alun-alun Ponorogo sama sekali tidak menyurutkan atmosfer sakral dalam gelaran Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026. Tepat pada Sabtu dini hari, 13 Juni 2026, keheningan malam pecah seketika saat grup Reyog Taruno Adi Luhung perwakilan dari SMAN 1 Babadan menginkubasi panggung utama. Alih-alih lesu karena tampil di jam rawan dan usai diguyur hujan, ratusan pasang mata yang bertahan justru disuguhi sebuah pertunjukan kolosal yang megah, bertenaga, dan sarat akan nilai estetika tinggi.
Performa Manggala Wiyata SMAN 3 Ponorogo di atas panggung FNRP Alun-Alun Ponorogo

Sejak menit pertama peluit ditiupkan, panggung utama langsung bergetar oleh dinamika gerak yang dibawakan oleh para seniman muda ini. Di bawah temaram dan sorot lampu panggung yang dramatis, Taruno Adi Luhung berhasil merajut harmoni yang nyaris tanpa celah. Komposisi gerak tari yang presisi berpadu apik dengan hentakan perkusi khas Reyog yang ritmis, ditambah dengan gemuruh senggak (vokal latar pendukung) yang kompak dan menggelegar. Setiap elemen pertunjukan—mulai dari kelincahan gerak gemulai para penari jathil, ketegasan karakter para warok, kelincahan jenaka bujangganong, hingga keperkasaan para pembarong saat mengangkat dadak merak—menyatu dalam satu frekuensi magis yang memaku penonton di tempat duduknya.
Penampilan group reog Manggala Wiyata SMAN 3 Ponorogo yang cukup memuaskan

Kekuatan magis dari penampilan SMAN 1 Babadan kali ini mengakar kuat pada aspek sinkronisasi. Tidak mudah menjaga ritme dan konsentrasi di waktu dini hari, namun Taruno Adi Luhung membuktikan bahwa kematangan latihan mampu mengalahkan faktor kelelahan fisik. Ketukan kendang, tiupan selompret, dan gerakan para penari di lapangan mengalir bak air, menunjukkan sebuah level disiplin koreografi yang sangat matang. Tak heran jika usai penutupan penampilan mereka, gemuruh tepuk tangan penonton langsung membahana, dan banyak pengamat seni di lokasi mulai memperhitungkan grup ini sebagai salah satu kandidat terkuat untuk masuk dalam jajaran nominasi penampilan terbaik FNRP tahun ini.

Dibalik kesuksesan yang memukau tersebut, ada rasa haru dan bangga yang mendalam dari pihak manajemen sekolah. Mewakili Kepala Sekolah SMAN 1 Babadan, Drs. Mukh. Aslam Ashuri, M.M., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus Ketua Grup Reyog Taruno Adi Luhung, H.Bambang Wijanarko M. Si, menyampaikan rasa puasnya yang tak terhingga begitu melihat anak didiknya mampu menyelesaikan ritual pertunjukan dengan paripurna. Tantangan cuaca yang sempat membasahi arena sebelum tampil diakuinya sempat memberikan ketegangan tersendiri, namun mental baja para siswa terbukti mampu membalikkan keadaan menjadi sebuah berkah pertunjukan yang epik.
Perpaduam tari jathil, bijang ganong dan dadak merak sukses dimainkan Manggala Jaya

“Meski sempat terkendala hujan, anak-anak tetap tampil maksimal. Kami sangat bangga. Mudah-mudahan ini menjadi berkah dan hasil terbaik bisa diraih,” ungkap Bambang Wijayanto dengan rona bahagia yang tak bisa disembunyikan.

Bukan perkara mudah untuk mengoordinasi sebuah pertunjukan kolosal di panggung sebesar FNRP. Bambang membeberkan bahwa ada sedikitnya 101 personel yang bahu-membahu di atas maupun di belakang panggung. Seluruh komponen penting dalam ekosistem Reyog dilebur menjadi satu kekuatan utuh, mulai dari barisan warok, jathil, bujangganong, pembarong yang memikul beban puluhan kilogram, hingga tim musik wiro sworo yang menjaga tempo pertunjukan tetap membara.

Lebih lanjut, perjalanan menuju panggung nasional ini dilewati melalui proses yang penuh dengan dinamika. Grup ini harus melahap sekitar 30 kali sesi latihan intensif demi mematangkan konsep. Tantangan terbesar malam itu sebenarnya bukan sekadar hujan, melainkan manajemen waktu. Para siswa dituntut harus membelah fokus dan konsentrasi mereka antara latihan fisik yang menguras tenaga dengan kewajiban akademis, yakni menghadapi ujian akhir kenaikan kelas serta agenda internal sekolah lainnya. Kendati persiapan dirasa belum sepenuhnya optimal dari segi kuantitas waktu, namun kualitas dan totalitas yang disuguhkan di atas panggung malam itu menghapus semua keraguan.
Kekompakan terlihat di group Manggala Wiyata SMAN 3 Ponorogo 

Bagi SMAN 1 Babadan, keikutsertaan dalam ajang tahunan FNRP ini membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar membawa pulang piala atau predikat juara. Panggung ini adalah laboratorium karakter bagi para siswa. Melalui proses panjang berkesenian, anak-anak muda ini ditempa untuk memahami arti penting dari sebuah kedisiplinan yang ketat, kerja sama tim yang solid, serta rasa tanggung jawab kolektif untuk menjaga marwah budaya leluhur.

Melalui kesuksesan penampilan yang menghentak Alun-alun Ponorogo ini, pihak sekolah menaruh harapan besar agar nama SMAN 1 Babadan semakin harum dan dikenal luas oleh masyarakat, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional. Performa gemilang ini diharapkan mampu menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat luas, sekaligus menegaskan bahwa SMAN 1 Babadan adalah wadah yang tepat bagi generasi muda yang ingin memadukan prestasi akademik dengan pelestarian budaya. Apa yang ditunjukkan oleh Taruno Adi Luhung dini hari itu adalah bukti otentik bahwa di tangan generasi muda yang tepat, warisan agung Reyog Ponorogo akan tetap hidup, relevan, dan terus memancarkan pesonanya di panggung modern.


Reporter: Muchtar Azharo
Editor: Sugeng Prasetyo

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Hari Jadi Ponorogo

📢 Pasang Iklan Disini