![]() |
| Manggala Wiyata, SMA Negeri 3 Ponorogo tampil totalitas di atas panggung FNRP Grebeg Suro 2026 |
PONOROGO - Gelaran akbar Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 kembali menjadi arena pembuktian keluhuran seni tradisi yang tak pernah lekang oleh gerak zaman. Di tengah atmosfer kompetisi tahunan yang dikenal sakral dan penuh gengsi ini, seisi Alun-Alun Ponorogo dibuat terpaku oleh ledakan energi dari satu nama yang langsung mencuri panggung utama. Grup Reyog Manggala Wiyata, yang membawa panji kebesaran SMAN 3 Ponorogo, sukses menyuguhkan sebuah tontonan magis yang memaksa ribuan pasang mata menatap tanpa berkedip sejak menit pertama mereka menginjakkan kaki di atas pentas.
![]() |
| Kompak dan selaras penampilan Manggala Wiyata, SMAN 3 Ponorogo |
Meskipun wilayah alun-alun sempat diguyur hujan deras sesaat sebelum acara dimulai, kondisi lapangan yang basah sama sekali tidak menyurutkan mentalitas bertanding para seniman muda ini. Begitu kendang ditabuh dan gong menggema, atmosfer di sekitar panggung utama langsung berubah total. Penonton disuguhi pertunjukan yang sangat spektakuler: gerakan para penari begitu kompak dan bertenaga, para penabuh gamelan tampil dengan semangat yang meluap-luap, serta keselarasan vokal dari paraga suara sirama yang begitu menyayat sekaligus membakar jiwa.
Kombinasi insting seni yang tajam dan disiplin tingkat tinggi ini melahirkan sebuah harmoni pertunjukan yang luar biasa, menyalurkan getaran emosi yang begitu nyata hingga membuat banyak pasang mata merinding. Tidak mengherankan jika malam itu, para penikmat reyog yang memadati lokasi langsung tanpa ragu menjagokan Manggala Wiyata sebagai kandidat terkuat peraih mahkota juara FNRP tahun ini.
![]() |
| Lincah dan gesit penari tari jathil siswi SMAN 3 Ponorogo |
Kepala SMAN 3 Ponorogo, Suratno, S.Pd., M.Pd., tidak dapat menyembunyikan rona bahagia sekaligus rasa bangganya atas totalitas luar biasa yang ditunjukkan oleh anak-anak didiknya. Baginya, gemuruh tepuk tangan penonton adalah buah manis dari sebuah proses panjang yang melelahkan. Suratno menjelaskan bahwa komitmen total ini melibatkan sedikitnya 110 personel yang bergerak dalam satu visi yang sama. Sesuai dengan cita-cita besar sekolah, SMAN 3 Ponorogo selalu ditargetkan untuk tampil maksimal dan memberikan yang terbaik, tidak hanya demi meraih piala, melainkan juga sebagai bentuk nyata dari misi agung nguri-uri (melestarikan) budaya Reyog di Kabupaten Ponorogo serta menjaga kelestarian kebudayaan Jawa secara luas.
Di balik durasi panggung yang terasa berjalan begitu cepat bagi penonton, tersimpan perjuangan berbulan-bulan yang menguras keringat dan air mata.
![]() |
| Singo Barong group reog Manggala Wiyata SMAN 3 Ponorogo |
Wakhid, selaku pembina utama Reyog Manggala Wiyata, membeberkan bahwa fondasi untuk festival tahun 2026 ini sebenarnya sudah diletakkan sejak awal tahun ajaran 2025/2026. Lini masa persiapan berjalan sangat ketat; dimulai dari proses seleksi ketat dan latihan mandiri pada bulan Desember, tim kemudian langsung masuk ke fase karantina intensif sejak bulan Februari. Kedisiplinan ini terus digembleng hingga pada Kamis, 28 Mei 2026 kemarin, mereka bahkan menggelar sarasehan budaya yang disisipkan di tengah agenda karantina tahap keempat demi mematangkan pemahaman filosofis para pemain terhadap tarian yang mereka bawakan.
Fakta yang paling memikat sekaligus memberikan angin segar bagi masa depan seni tradisi adalah komposisi dari tim Manggala Wiyata itu sendiri, yang didominasi oleh wajah-wajah muda. Kurang lebih 80 persen dari total keseluruhan pemain merupakan siswa aktif yang saat ini masih duduk di bangku kelas X dan XI, dengan didukung oleh beberapa kakak kelas XII yang baru saja menyelesaikan masa studinya. Fenomena ini menjadi bukti sahih bahwa proses regenerasi pelestarian Reyog di Bumi Ponorogo berjalan dengan sangat sehat dan dinamis. Remaja-remaja modern ini berhasil mematahkan stigma bahwa kebudayaan daerah adalah sesuatu yang kuno dan kaku.
Lewat penampilannya, Manggala Wiyata mengirimkan pesan kuat tentang cinta, tanggung jawab, dan pembuktian bahwa di tangan generasi muda yang tepat, tradisi akan selalu menemukan ruang ekspresi yang relevan dengan denyut zaman.
Reporter: Muchtar Azhari
Editor: Sugeng Prasetyo




