Terkini
Memuat berita terbaru...

Iklan

📢 Pasang Iklan Disini

Memaknai Ulang “Lek Gak Srawung, Ojo Tulang-tulung”

Seputarponorogo.com
Minggu, 06 September 2026
Last Updated 2026-09-08T23:59:20Z
Pasang Iklan di Sini
Jangkauan luas, harga terjangkau
📲 Hubungi via WhatsApp
—Di media sosial belakangan muncul ungkapan Jawa yang cukup menarik: “Lek gak gelem srawung, ojo tulung-tulung.” Kurang lebih artinya, kalau tidak mau bergaul dengan masyarakat, jangan meminta pertolongan.

Kalimat tersebut sebenarnya membawa pesan yang baik. Sebagai makhluk sosial, apalagi hidup di lingkungan kampung, kita memang tidak bisa hidup sendirian. Ada tetangga punya hajatan kita membantu, ada kerja bakti kita ikut, ada orang meninggal kita melayat. Kelak ketika kita mempunyai keperluan atau tertimpa kesusahan, tetangga pula yang biasanya pertama datang.

Itulah salah satu indahnya hidup bermasyarakat.

Srawung Bukan Hanya Soal Nongkrong

Persoalannya menjadi sedikit berbeda ketika kata srawung dimaknai terlalu sempit. Seolah-olah orang baru dianggap bermasyarakat kalau sering nongkrong, ikut jagongan sampai malam, atau selalu hadir dalam setiap kegiatan kelompok.

Padahal kehidupan setiap orang berbeda.

Ada yang selepas bekerja memilih menemani anaknya di rumah. Ada yang malam hari mengajar mengaji. Ada yang harus beristirahat karena pagi-pagi sudah bekerja. Ada pula yang memang tidak terlalu suka nongkrong, tetapi tetap menyapa tetangga dan hadir ketika lingkungan membutuhkan tenaganya.

Apakah mereka bisa langsung disebut ora gelem srawung?

Lebih rumit lagi, tidak semua bentuk pergaulan selalu berisi kegiatan yang bisa diterima semua orang. Dalam beberapa kelompok pergaulan mungkin ada minuman keras, perjudian, atau kebiasaan lain yang menurut sebagian orang bertentangan dengan norma maupun prinsip hidupnya.

Tentu seseorang tidak harus ikut minum supaya disebut grapyak. Tidak perlu ikut berjudi agar dianggap gampang srawung.

Sebab srawung tidak berarti harus larut.

Tetap Berteman Tanpa Harus Menjadi Sama

Seseorang tetap bisa berteman dengan siapa saja tanpa harus mengikuti seluruh kebiasaan temannya. Tetap bisa duduk bersama, bercanda, menyapa ketika bertemu, membantu ketika ada kesulitan, tetapi mempunyai batas mengenai hal-hal yang tidak ingin dilakukannya.

Begitu pula sebaliknya. Rajin nongkrong setiap malam juga belum tentu menjadi bukti seseorang paling peduli terhadap lingkungan. Kalau ada kerja bakti selalu menghilang dan ketika tetangga kesusahan pura-pura tidak tahu, mungkin yang bagus bukan kesrawungannya.

Hanya absensi nongkrongnya yang sangat baik.

Karena itu, ungkapan “Lek gak gelem srawung, ojo tulung-tulung” sebaiknya tidak dijadikan semacam ancaman sosial. Pertolongan kepada tetangga jangan sampai berubah menjadi transaksi: siapa yang sering kumpul akan dibantu, sedangkan yang jarang nongkrong silakan mengurus kesusahannya sendiri.

Srawung Semestinya Menguatkan Kebersamaan

Masyarakat justru menjadi kuat ketika perbedaan kebiasaan tetap bisa hidup berdampingan.

Orang yang suka nongkrong silakan nongkrong. Yang lebih nyaman di rumah juga tidak perlu dianggap menjauh dari masyarakat. Yang penting ketika ada kepentingan bersama, kita masih bersedia datang, membantu dan peduli.

Barangkali karena itu, ungkapan tadi bisa sedikit diperbarui.

Bukan “Lek gak gelem srawung, ojo tulung-tulung.”

Tetapi, “Lek gelem srawung, ojo meksa wong kudu podo.”

Sebab inti hidup bertetangga bukan membuat semua orang mempunyai kebiasaan yang sama, melainkan tetap bisa saling menolong meskipun cara hidup kita berbeda. 


Reporter: N/A
Editor: N/A

iklan
Komentar Pembaca
Komentar menjadi tanggung jawab masing-masing pengirim. Gunakan bahasa yang santun dan sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Memaknai Ulang “Lek Gak Srawung, Ojo Tulang-tulung”
  • Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari Jadi Ponorogo

📢 Pasang Iklan Disini