![]() |
| Penampilan "Taruna Manggala" dalam FRR di Panggung Utama Aloon-Aloon |
PONOROGO - Gelaran Festival Reog Remaja (FRR) XXII Tahun 2026 di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo benar-benar menjadi panggung pembuktian bagi talenta-talenta muda. Pada Minggu (7/6/2026) malam, riuh rendah penonton seketika pecah saat grup seni Reog Taruna Manggala utusan dari SMP Negeri 1 Bungkal unjuk gigi.Mengusung energi khas kawula muda, penampilan mereka berhasil mencuri perhatian dan menjadi salah satu magnet utama dalam festival bergengsi tahun ini.
Sejak seluruh peserta bersiap menunjukkan penampilannya di panggung utama, atmosfer Alun-Alun Ponorogo langsung berubah hidup. Para seniman remaja ini menyuguhkan atraksi yang tidak hanya pakem, tetapi juga menyegarkan. Gerakan tari yang kompak, dentuman musik reog yang rancak dan dinamis, serta kelincahan para pemegang dadak merak sukses memancing decak kagum ratusan pasang mata yang memadati area penonton.
![]() |
| Gagah perkasa penjiwaan Prabu Klono Sewandono oleh siswa SMPN 1 Ponorogo |
Namun, yang membuat penampilan SMPN 1 Bungkal kali ini benar-benar ikonik dan berbeda adalah keberanian mereka dalam berinovasi. Di tengah-tengah pertunjukan, terselip sebuah koreografi unik yang memadukan unsur modern dan hobi kontemporer, yakni sentuhan tarian hiphop yang energik serta visualisasi gerakan ala "kicau mania". Akulturasi kreatif ini memberikan nuansa yang sangat atraktif, segar, dan kekinian tanpa menghilangkan marwah sakral dari seni Reog Ponorogo itu sendiri.
Spontan, gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai penonton terus mengalir mengiringi setiap jengkal pergerakan mereka di atas panggung. Banyak pasang mata menilai bahwa meski usianya masih belia, para siswa ini mampu membawakan tarian dengan penghayatan mendalam dan semangat yang membara.
![]() |
| Tari warok dimainkan baik oleh para siswa SMPN 1 Bungkal |
Saat dikonfirmasi media, Kepala SMP Negeri 1 Bungkal, Riduwan, S.Pd., M.Pd., tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Beliau melontarkan apresiasi setinggi-tingginya atas daya juang anak didiknya yang telah menyuguhkan performa maksimal di atas panggung. Riduwan mengungkapkan bahwa di balik penampilan yang megah tersebut, ada kerja keras luar biasa yang melibatkan sedikitnya 95 personel, yang terdiri dari barisan penari, pengrawit (pemusik), hingga wiraswara.
![]() |
| Kolaboratif penari jathil dan warok memukau penonton di panggung FRR |
Untuk mencapai titik ini, persiapan matang telah digodok selama kurang lebih dua bulan terakhir. Seluruh tim setidaknya harus melewati frekuensi latihan intensif sebanyak 20 hingga 25 kali pertemuan. Riduwan menambahkan bahwa bakat-bakat luar biasa ini sebenarnya tidak muncul secara instan, melainkan hasil dari pengasahan konsisten melalui kegiatan ekstrakurikuler seni yang rutin digelar di sekolah. Bagi pihak sekolah, partisipasi dalam FRR XXII ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan semata. Lebih dari itu, ini merupakan wujud nyata kepatuhan dan komitmen SMPN 1 Bungkal sebagai institusi pendidikan dalam memikul amanah melestarikan kebudayaan luhur, sekaligus menanamkan rasa cinta dan bangga yang mendalam di sanubari generasi muda terhadap warisan leluhur mereka.
![]() |
| Foto bersama group Reog Taruna Manggala SMPN 1 Bungkal |
Mengenai pencapaian, Riduwan menegaskan bahwa target utama sekolah sejatinya adalah melihat anak-anak bisa tampil percaya diri dan optimal. Hasil gemblengan selama latihan keras terbukti telah terbayar lunas lewat penampilan malam itu. Kendati demikian, pihak sekolah juga menaruh harapan besar agar kerja keras ini mendapat apresiasi positif dari tim juri dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Masuk dalam jajaran sepuluh besar merupakan harapan yang realistis, dan jika takdir membawa mereka menembus peringkat lima besar, hal tersebut akan menjadi bonus yang sangat disyukuri.
Mengakhiri momentum tersebut, pihak sekolah juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh tim pembimbing, pelatih, dan pembina yang tanpa lelah terus mengawal dan melejitkan potensi para siswa. Ajang Festival Reog Remaja XXII ini pun kembali membuktikan esensinya sebagai pilar krusial dalam menjaga nyala api kelestarian Reog Ponorogo, sekaligus memastikan roda regenerasi pelaku seni di bumi reyog terus berputar dinamis di tangan generasi muda.
Reporter: Muchtar Azhari
Editor: Sugeng Prasetyo





