![]() |
| Foto bersama Plt. Kakan Kemenag Ponorogo dalam acara Kick Off dan Launching PODIUM MTsN 6 Ponorogo |
PONOROGO - Sebuah
momentum penting bagi transformasi pendidikan Islam dan reformasi birokrasi
berlangsung khidmat di Hotel Amaris Ponorogo pada Ahad, 19 Juli 2026. Madrasah
Tsanawiyah Negeri (MTsN) 6 Ponorogo menyelenggarakan rangkaian agenda strategis
yang memadukan komitmen peningkatan prestasi madrasah dengan penguatan tata
kelola kelembagaan yang bersih. Kegiatan tersebut mengintegrasikan tiga agenda
utama, yakni kick off sekaligus launching program PODIUM (Penguatan Komitmen
Bersama Mendidik Prestasi Unggul Madrasah) yang dirangkai dengan penetapan Agen
Perubahan, Penguatan Pembangunan Zona Integritas (ZI) bagi Aparatur Sipil
Negara (ASN)oleh Kepala Bagian TU akanwil Kemenag provinsi Jawa Timurr serta
Workshop Capacity Building bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) oleh Dr
Mufarrihin Hazin MPd dr Unesa SBY.
![]() |
| Sesi foto-foto bersama di acara Kick Off dan Launching program PODIUM |
Kepala MTsN 6 Ponorogo, H. Muhadi, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya memaparkan latar belakang historis dan filosofis dari program PODIUM. Inovasi ini lahir dari gagasan kreatif seluruh elemen di MTsN 6 Ponorogo yang bertekad menyatukan langkah demi mewujudkan madrasah yang unggul dan kompetitif. Lebih dari sekadar program prestasi, momentum hari ini menjadi sangat krusial karena MTsN 6 Ponorogo resmi ditunjuk sebagai pilot project pembangunan Zona Integritas di lingkungan subdirektorat madrasah berdasarkan SK Dirjen Pendis Nomor 1686. Kepercayaan ini menjadikan MTsN 6 Ponorogo sebagai satu-satunya madrasah di Kabupaten Ponorogo yang memikul amanah besar tersebut. Muhadi mengungkapkan rasa harunya dengan mengombinasikan kalimat Alhamdulillah dan Innalillahi, sebuah refleksi kesadaran bahwa selain merupakan berkah luar biasa, penunjukan ini juga membawa tantangan besar yang harus dicarikan solusinya secara bersama-sama. Ia mengakui secara terbuka bahwa selama ini program kedisiplinan dan integritas sudah banyak berjalan, namun belum terdokumentasikan dengan baik sehingga jalannya reformasi lembaga dirasa masih meraba-raba di dalam kegelapan.
Kehadiran para pimpinan Kemenag diibaratkannya sebagai mercusuar yang membawa kecerahan dan arah baru. Mengambil prinsip kemudahan dalam syariat, Muhadi mengajak seluruh jajarannya untuk memulai pembangunan Zona Integritas ini dengan melakukan apa yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, tanpa harus menuntut kesempurnaan mutlak di tahun pertama, asalkan terus bergerak maju.
Agen perubahan tersebut diantaranya adalah: Syukron Fauzi, M.Pd.I pada Bidang Pelayanan Publik Kemasyarakatan. Ahmad Masrur Fatoni, M.Pd.I pada Bidang Peningkatan Asing. Barokah Murti, M.Pd.I pada Bidang Peningkatan Kompetensi Digital Guru dalam Pembelajaran. Usnida Junaeka Verawati, M.Pd. pada Bidang Peningkatan Keterampilan Numerasi. Dinear Dzulfi, S.Pd, pada Bidang Inovasi dan Prestasi Madrasah. Unun Nafi’ah pada Bidang Inovasi Madrasah dalam Karya Tulis Ilmiah/Penelitian Siswa. Rizka Beladina, M.Pd.I pada Bidang Peningkatan Penguasaan Bahasa Arab.
![]() |
| Sambutan-sambutan di acara Kick Off dan launching program PODIUM |
Melalui Capacity Building, kita bersama-sama me-refresh dan me-recharging kembali semangat, motivasi, serta kinerja kita. Di tengah tantangan pendidikan yang terus berkembang, madrasah kita membutuhkan SDM yang tangguh, adaptif, dan solid,” kata Muhadi.
Dukungan penuh dan apresiasi tinggi disampaikan oleh Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo, H. Moh. Thohari, S.Ag., M.H. Saat memberikan pembinaan sekaligus membuka acara secara resmi, ia menegaskan bahwa terpilihnya MTsN 6 Ponorogo sebagai pilot project dan satu-satunya madrasah di Ponorogo yang maju dalam penilaian Penilaian Mandiri Pembangunan Zona Integritas (PMPZI) merupakan sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan yang harus dijaga dengan kinerja nyata.
Dalam arahannya yang berbobot, Thohari mengutip pemikiran
tokoh investasi dunia, Warren Buffett, mengenai tiga pilar utama yang wajib
dimiliki oleh sumber daya manusia dalam sebuah organisasi, yaitu integritas
(integrity), kecerdasan (intelligence), dan energi (energy). Thohari menekankan
secara mendalam bahwa di antara ketiga hal tersebut, integritas menempati kasta
tertinggi yang tidak boleh ditawar. Apabila sebuah lembaga diisi oleh
orang-orang yang cerdas dan penuh energi namun minus integritas, maka kepintaran
dan semangat tersebut justru akan berpotensi menghancurkan lembaga itu sendiri
karena mereka mampu memanipulasi aturan demi kepentingan pribadi. Oleh karena
itu, ia menilai langkah MTsN 6 Ponorogo mengundang para pakar untuk menanamkan
pemahaman Zona Integritas adalah langkah yang sangat tepat demi melahirkan ASN
yang bekerja secara tuntas, cerdas, dan jujur di bawah koridor hukum yang
berlaku.
Arah kebijakan reformasi birokrasi pembangunan zona integritas dikupas tuntas oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Syaikhul Hadi, S.Ag., M.Fil. Ia menggarisbawahi fakta bahwa kemajuan suatu bangsa tidak pernah lepas dari kualitas sistem pendidikannya, dan mutu pendidikan yang baik wajib berjalan selaras dengan tata kelola kelembagaan yang transparan.
Syaikhul Hadi menegaskan bahwa esensi dari pembangunan Zona Integritas bukanlah sekadar rutinitas pemenuhan dokumen administratif di atas kertas, melainkan sebuah ikhtiar transformatif untuk mengakar kuatnya budaya kerja berorientasi pelayanan publik yang prima. Pihak Kanwil Kemenag Jawa Timur sendiri memasang target ambisius agar setiap tahun minimal ada penambahan satu satuan kerja yang sukses meraih predikat ZI, mengingat standar pelayanan publik ini sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi instansi modern.
![]() |
| Narasumber menyampaikan materi di acara kick off dan launching program PODIUM |
Guna mengimplementasikan nilai-nilai tersebut, Syaikhul Hadi menginstruksikan seluruh ASN untuk mengadopsi budaya kerja "IDOLA", sebuah akronim dari Integritas, Dedikasi, Obyektif, Loyal, dan Amanah. Budaya kerja ini diharapkan mampu menjadi fondasi moral bagi para pegawai agar dapat memosisikan diri sebagai teladan masyarakat dan pemberi layanan yang profesional tanpa sekat diskriminasi. Ia juga mengingatkan konsep tanggung jawab moral ASN terhadap target dan indikator kinerja yang telah dianggarkan agar diselesaikan tepat waktu sesuai standar operasional yang berlaku.
Selain aspek
profesionalisme, ia mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan rasa syukur
mendalam sebagai umat Islam yang hidup di bumi pertiwi yang damai serta
menjalankan amanah sebagai ASN Kemenag dengan tulus. Rasa syukur tersebut harus
dimanifestasikan dalam bentuk menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah kemanusiaan,
serta keharmonisan dengan alam sekitar melalui pendekatan ekoteologi dan
penerapan trilogi kerukunan umat beragama.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung penuh antusiasme ini ditutup dengan penguatan kapasitas melalui Workshop Capacity Building yang diampu oleh Dr. Mufarrihin Hazin, M.Pd. dari UNESA Surabaya, yang berhasil menyuntikkan motivasi, kesolidan tim, serta energi baru bagi segenap guru dan tenaga kependidikan MTsN 6 Ponorogo untuk merealisasikan visi madrasah berprestasi dan berintegritas tinggi.




