![]() |
| Peperangan Prabu Klonosewandono dengan Singo Barong dimainkan oleh Kridha Taruna |
PONOROGO - Gemuruh tabuhan kendang, selompret, dan kenong seketika memecah keheningan malam di arena Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI pada Sabtu, 13 Juni 2026. Di bawah sorot lampu panggung yang megah, kelompok seni Kridha Taruna dari SMAN 2 Ponorogo sukses menyihir ribuan pasang mata yang memadati lokasi festival. Bertindak sebagai penampil pamungkas pada hari ketiga, delegasi pelajar ini menyuguhkan sebuah pertunjukan yang tidak sekadar apik, melainkan sebuah ledakan energi yang penuh harmoni, kedisiplinan tinggi, dan penghayatan mendalam terhadap akar budaya leluhur.
![]() |
| Atraktif penampilan group reog Kridha Taruna dari SMAN 2 Ponorogo |
Langkah kaki yang serempak, kibasan bulu merak yang anggun namun kokoh, serta kelincahan para penari jathilan dan warok malam itu bukanlah sebuah kebetulan yang instan. Di balik magisnya penampilan berdurasi belasan menit tersebut, ada keringat dan dedikasi yang mengalir selama berbulan-bulan.
Kepala SMAN 2 Ponorogo, Mursid, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa mahakarya visual ini merupakan buah dari proses karantina dan latihan spartan yang dilakukan secara intensif selama kurang lebih tiga bulan terakhir. Menghadapi panggung Reog paling sakral dan bergengsi di tanah air, pihak sekolah tidak ingin setengah-setengah dalam mempersiapkan talenta-talenta mudanya.
![]() |
| Srikandi-srikandi SMAN 2 Ponorogo dalam tarian jathil di FNRP 2026 |
Panggung FNRP malam itu benar-benar dikuasai oleh warna merah-hitam khas Kridha Taruna yang membawa kekuatan masif. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 100 personel dikerahkan dalam satu rampak barisan. Mulai dari para penari yang enerjik di garda depan, barisan pengrawit (pemusik) yang menjaga ritme pertunjukan tetap hidup, hingga tim komite teknis di balik layar yang memastikan setiap properti bergerak tanpa cela. Mengatur gelombang manusia sebanyak itu di atas panggung tentu bukan perkara mudah, namun Kridha Taruna berhasil mengubah jumlah personel yang besar tersebut menjadi modal utama untuk menciptakan konfigurasi estetis yang atraktif dan dinamis.
![]() |
| Penampilan all out group Reog Kridha Taruna SMAN 2 Ponorogo |
Bagi SMAN 2 Ponorogo, kehadiran mereka di FNRP XXXI tahun ini bukan sekadar pelengkap saf atau partisipasi seremonial belaka. Ada ambisi besar dan keyakinan yang membubung tinggi di pundak setiap siswa. Mursid menegaskan bahwa timnya datang membawa mentalitas juara. Target tertinggi dipatok bukan karena kesombongan, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras, waktu, dan energi yang telah dikorbankan para siswa selama masa persiapan. Mereka optimistis dapat membawa pulang piala supremasi tertinggi dan mengukir tinta emas bagi sejarah prestasi sekolah.
![]() |
| Kepala SMAN 2 Ponorogo, Mursid, S.Pd. M.Pd. duduk di kursi terdepan untuk memberi suport Kridha Taruna |
Namun, di luar urusan piala dan piagam penghargaan, ada misi yang jauh lebih suci yang sedang diemban oleh SMAN 2 Ponorogo, yakni estafet pelestarian budaya. Di era digital di mana modernisasi kerap mengikis identitas lokal, Kridha Taruna hadir sebagai oase. Mursid memandang Reog Ponorogo sebagai warisan adiluhung yang tidak boleh dibiarkan usang dimakan zaman. Tanggung jawab moral untuk menjaga denyut nadi kesenian ini kini berada di pundak generasi Z dan Alfa. Melalui wadah Kridha Taruna, para pelajar tidak hanya ditempa secara fisik untuk menguasai teknik tari atau musik, tetapi juga diajak menyelami filosofi mendalam, nilai ksatria, dan identitas kultural yang melekat pada setiap jengkal kesenian Reog.
Langkah taktis yang diambil SMAN 2 Ponorogo ini menjadi potret nyata bagaimana institusi pendidikan mampu mengambil peran strategis sebagai benteng pertahanan budaya daerah. Mereka berhasil membuktikan bahwa menjadi modern dan berprestasi secara akademik tidak harus membuat remaja kehilangan pegangan pada tradisi asalnya. Malam itu, Kridha Taruna SMAN 2 Ponorogo tidak hanya sedang berkompetisi memperebutkan gelar juara FNRP XXXI, tetapi mereka sedang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa masa depan Reog Ponorogo berada di tangan yang tepat, di tangan generasi muda yang siap merawat, mencintai, dan menggaungkan pesona budaya bangsa hingga ke panggung internasional.
Reporter: Muchtar Azhari
Editor: Sugeng Prasetyo





