Seputarponorogo.com, PONOROGO – Pemerintah Kabupaten Ponorogo memastikan seluruh persiapan pelaksanaan Grebeg Suro 2026 hampir tuntas. Event budaya tahunan yang menjadi ikon pariwisata Ponorogo itu siap menyuguhkan puluhan agenda menarik selama perayaan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, sekaligus menjadi momentum untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif dan UMKM lokal.
Sebanyak 30 agenda pendukung atau side event yang masuk dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 telah dipastikan siap digelar. Panitia besar bersama seluruh organisasi perangkat daerah terkait kini memasuki tahap akhir penyempurnaan teknis agar seluruh kegiatan berjalan lancar dan sukses.
Sekretaris Daerah Ponorogo, Agus Sugiarto, mengatakan semangat penyelenggaraan Grebeg Suro tahun ini harus lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, seluruh pihak terus berupaya menjaga kualitas pelaksanaan setiap agenda agar mampu memberikan pengalaman terbaik bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Ponorogo.
Dalam rapat final persiapan yang berlangsung di Ruang Bantarangin, Jumat (30/5/2026), Agus menyoroti pentingnya Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) dan Festival Reog Remaja (FRR). Kedua agenda tersebut menjadi daya tarik utama yang selalu dinantikan publik dan wisatawan setiap perayaan Grebeg Suro.
FNRP Jadi Magnet Utama Grebeg Suro 2026
Selain menjadi panggung utama seni budaya Ponorogo, lokasi penyelenggaraan FNRP dan FRR di Alun-Alun Ponorogo juga akan menjadi pusat seremoni pembukaan Grebeg Suro 2026. Agus menegaskan bahwa pelaksanaan FNRP memerlukan perhatian khusus karena masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN), program nasional yang menghimpun event-event unggulan Indonesia hasil kurasi pemerintah pusat.
Menurutnya, status tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi Ponorogo untuk menyelenggarakan festival budaya dengan standar yang semakin baik, baik dari sisi manajemen acara, pelayanan pengunjung, hingga promosi wisata.
Lebih lanjut, Agus mengingatkan bahwa Ponorogo saat ini memiliki posisi strategis di tingkat internasional setelah resmi bergabung dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada kategori kerajinan dan seni rakyat. Capaian tersebut melengkapi pengakuan dunia terhadap Reog Ponorogo sebagai salah satu warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat.
Karena itu, Grebeg Suro tidak hanya dipandang sebagai agenda hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Reog Ponorogo diharapkan terus menjadi motor penggerak yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
UMKM Diberi Ruang Lebih Luas
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, memastikan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapatkan ruang yang luas dalam perhelatan tahun ini.
Berbagai fasilitas promosi telah disiapkan, termasuk dukungan videotron yang akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk maupun toko milik pelaku UMKM kepada para pengunjung.
Judha menyebut seluruh tahapan pengecekan akhir telah selesai dilakukan. Dengan kesiapan yang ada, pihaknya optimistis Grebeg Suro 2026 akan menjadi pesta rakyat yang meriah sekaligus mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.
Ia berharap puluhan agenda yang digelar sepanjang bulan perayaan mampu menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah. Kehadiran wisatawan tersebut diyakini akan memberikan efek berganda bagi sektor perdagangan, perhotelan, kuliner, transportasi, hingga industri kreatif lokal.
Menurut Judha, Grebeg Suro selama ini telah menjadi denyut utama pariwisata Ponorogo yang mampu memperkenalkan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas. Karena itu, kualitas penyelenggaraan harus terus ditingkatkan agar gaungnya semakin terasa di tingkat nasional.
Kesakralan Tradisi Tetap Dijaga
Dukungan terhadap pelaksanaan Grebeg Suro juga datang dari Wakil Ketua DPRD Ponorogo, Evi Dwitasari. Ia menegaskan bahwa Grebeg Suro merupakan identitas budaya masyarakat Ponorogo yang harus dijaga bersama.
Meski berbagai inovasi dan hiburan terus ditambahkan, Evi mengingatkan agar nilai-nilai tradisi dan kesakralan yang menjadi ruh Grebeg Suro tetap dipertahankan. Prosesi kirab pusaka, jamasan pusaka, hingga tirakatan malam 1 Suro harus tetap dilaksanakan dengan penuh penghormatan terhadap adat dan budaya yang diwariskan para leluhur.
Selain pelestarian budaya, ia juga menyoroti pentingnya aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, serta pelayanan publik selama pelaksanaan acara. Mengingat jumlah pengunjung yang diperkirakan mencapai puluhan ribu orang, koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan.
Dengan persiapan yang telah memasuki tahap akhir, Grebeg Suro 2026 diharapkan mampu menjadi ruang pelestarian budaya, sarana hiburan masyarakat, sekaligus penggerak utama pertumbuhan ekonomi lokal. Kehadiran puluhan agenda budaya, seni, dan ekonomi kreatif diyakini akan semakin mengukuhkan Ponorogo sebagai kota budaya yang dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional.


