Iklan

📢 Pasang Iklan Disini

Makna Bersyukur dalam Islam: Nikmat dan Musibah Sama-Sama Anugerah

Seputarponorogo.com
Jumat, 20 Februari 2026
Last Updated 2026-02-20T00:00:00Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Pasang Iklan di Sini
Jangkauan luas, harga terjangkau
📲 Hubungi via WhatsApp

Makna Bersyukur dalam Islam: Nikmat dan Musibah Sama-Sama Anugerah

Seputarponorogo.com-Makna bersyukur dalam Islam sering kali dipahami sebatas ungkapan bahagia saat mendapatkan nikmat. Ketika tubuh sehat, rezeki lancar, atau keinginan tercapai, seseorang mudah mengucapkan syukur. Namun saat nikmat itu berkurang—misalnya sakit atau tertimpa masalah—rasa syukur kerap berubah menjadi keluhan.

Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya salah, tetapi belum utuh. Dalam ajaran Islam, bersyukur tidak hanya berlaku ketika menerima hal yang menyenangkan. Segala sesuatu yang dialami seorang Muslim, baik nikmat maupun musibah, tetap layak disyukuri selama iman dan Islam masih terjaga.

🌙 Imsakiyah Hari Ini

Iman dan Islam adalah Anugerah Terbesar

Para ulama menjelaskan bahwa anugerah terbesar dari Allah bukan sekadar kesehatan atau kekayaan, melainkan iman dan Islam. Iman menjadi fondasi keyakinan, sedangkan Islam menjadi pedoman dalam beribadah dan berperilaku. Selama dua hal ini kokoh, apa pun kondisi yang dihadapi tetap mengandung kebaikan.

Dengan iman yang kuat, seorang Muslim mampu melihat setiap peristiwa sebagai bagian dari rencana Allah. Bahkan ujian hidup pun diyakini memiliki hikmah dan tujuan yang baik.

Mengapa Musibah Juga Harus Disyukuri?

Pertanyaan ini sering muncul: bagaimana mungkin musibah disyukuri? Dalam Islam, setiap ketentuan Allah mengandung kebaikan, meski tidak selalu langsung terlihat. Ujian bisa menjadi sarana peningkatan derajat, penghapus dosa, dan penguat kesabaran.

Dengan sudut pandang ini, rasa sakit, kehilangan, atau kesulitan bukan semata penderitaan. Semua itu bisa menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Jika dalam kondisi sulit saja masih ada alasan untuk bersyukur, maka dalam keadaan lapang tentu rasa syukur harus lebih besar lagi.

Syukur Tidak Cukup dengan Ucapan

Banyak orang menganggap syukur cukup diucapkan dengan “alhamdulillah”. Padahal, cara bersyukur dalam Islam seharusnya diwujudkan dalam tindakan nyata. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas ibadah, baik yang wajib maupun sunnah.

Teladan ini tampak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Meski telah dijamin ampunan, beliau tetap memperbanyak ibadah hingga kakinya bengkak karena lama berdiri saat salat malam. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur.

Kisah ini menunjukkan bahwa syukur sejati mendorong seseorang untuk lebih taat, bukan merasa cukup. Ibadah yang dilakukan dengan niat bersyukur memiliki nilai lebih dibanding ibadah yang sekadar menggugurkan kewajiban.

Syukur Meningkatkan Kualitas Ibadah

Ketika ibadah dilakukan atas dasar rasa syukur, pelaksanaannya menjadi lebih serius, fokus, dan khusyuk. Bahkan aspek kecil seperti menjaga kebersihan, kerapian pakaian, dan adab saat beribadah menjadi bagian dari totalitas penghambaan.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa Allah melimpahkan anugerah kepada seluruh manusia, namun banyak yang lalai untuk bersyukur. Padahal nikmat Allah tidak terhitung jumlahnya.

Melatih Diri untuk Selalu Bersyukur

Melatih rasa syukur bisa dimulai dari hal sederhana: bersyukur atas kesehatan, waktu luang, keluarga, serta kesempatan beribadah. Dengan membiasakan diri melihat segala sesuatu sebagai karunia, hati akan lebih tenang dan kuat menghadapi ujian hidup.

Pada akhirnya, hakikat bersyukur dalam Islam bukan hanya tentang menerima nikmat, tetapi juga menerima takdir dengan iman yang kokoh. Selama iman dan Islam tetap terjaga, setiap keadaan adalah jalan menuju kebaikan.



Reporter: N/A
Editor: N/A


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Hari Jadi Ponorogo

📢 Pasang Iklan Disini