Seputarponorogo.com—Beberapa waktu terakhir, lini masa media sosial dan obrolan warung kopi kita mendadak dipenuhi oleh para "pakar geopolitik" dadakan. Dari bapak-bapak pos ronda sampai pemuda nongkrong di kafe, topiknya sangat elit: membahas ketegangan militer di Timur Tengah, mengutuk penjajahan di Palestina, hingga menganalisis kehebatan teknologi rudal dan drone milik Iran.
Kita bisa sangat emosional membela kemanusiaan di Palestina, lalu berpindah sangat antusias mendebat strategi perang Iran melawan Barat. Sungguh, urat empati kita luar biasa luas, bahkan mampu menyeberangi Samudra Hindia hingga menembus batas-batas negara di benua seberang.
Namun, coba taruh sebentar ponsel Anda, seruput kopinya, lalu mulailah berkendara keliling Ponorogo.
Di saat kita fasih menghafal nama-nama rudal buatan Teheran, kita hampir tidak pernah peduli mengapa sungai-sungai di sekitar kita makin meranggas dan rusak. Di saat kita menangis melihat tanah Gaza luluh lantak, kita mendadak amnesia bahwa bumi Reyog sedang dikeruk habis-habisan oleh aktivitas tambang pasir (galian C) yang tak terkendali. Akibatnya? Ekosistem sungai rusak, lingkungan sekitar gersang, dan puncaknya: puluhan ruas jalan di Ponorogo remuk, berlubang, dan menebarkan debu pekat setiap kali truk-truk muatan overkapasitas itu lewat.
Kita mendadak menderita "rabun dekat" akut: mata kita sangat awas melihat ketidakadilan dan konflik di belahan bumi lain, tetapi buta melihat kehancuran pelan-pelan yang terjadi di depan hidung sendiri.
Ilusi "Pejuang Layar Kaca"
Mengapa kita bisa begitu membara membahas Palestina dan Iran, tetapi mendadak gembos saat bicara soal kerusakan lingkungan di halaman rumah sendiri? Jawabannya sederhana: karena isu luar negeri itu "murah" dan memberikan kepuasan moral yang instan.
Membela Palestina atau mengunggulkan Iran di media sosial hanya butuh modal jempol. Ikut membagikan video, memasang emoji semangka, atau sekadar berdebat di kolom komentar sudah membuat kita merasa seperti pahlawan pembela kebenaran. Ada kepuasan batin yang cepat saji di sana.
Sebaliknya, peduli pada rusaknya ekosistem Ponorogo itu "mahal" dan tidak nyaman. Kenapa? Karena musuhnya nyata dan ada di sekitar kita. Musuhnya bukan tentara asing di seberang lautan, melainkan para pemilik modal tambang lokal, penguasa daerah yang melegalkan izin, atau bahkan ego kita sendiri yang malas untuk bersuara secara kritis. Menuntut jalan yang layak dan sungai yang lestari memaksa kita berhadapan dengan realitas politik di daerah sendiri. Dan itu melelahkan.
Dosa Membiarkan (Crime by Omission)
Dalam istilah hukum, ada konsep yang disebut crime by omission—atau kejahatan karena membiarkan. Sederhananya, Anda memang tidak ikut memukul orang, tetapi Anda melihat ada orang digebuki di depan mata dan Anda hanya diam menonton sambil mengunyah camilan, padahal Anda bisa berteriak minta tolong atau melapor. Diamnya Anda adalah bagian dari kejahatan itu.
"Sikap kita terhadap eksploitasi alam di Ponorogo hari ini adalah bentuk nyata dari crime by omission secara massal."
Kita mungkin tidak memiliki alat berat untuk mengeruk pasir di sungai, kita juga bukan sopir truk raksasa yang saban hari menggilas aspal jalanan hingga hancur. Namun, ketika kita tahu lingkungan kita sedang dirusak, ketika kita tahu anak-anak kita harus menghirup debu jalanan yang rusak parah setiap berangkat sekolah, lalu kita memilih memalingkan muka, diam, dan pura-pura tidak tahu demi kenyamanan psikologis—maka diamnya kita adalah kaki tangan dari kehancuran itu sendiri.
Kita sering berdalih, "Ah, saya kan rakyat jelata, urusan tambang dan jalan rusak itu urusan bupati, urusan dinas terkait."
Tapi tunggu dulu. Mengapa energi kita bisa mendadak menjadi raksasa, kompak, dan berisik luar biasa saat membela isu di Timur Tengah? Mengapa suara yang sama mendadak ciut, gembos, dan bisu saat dipakai untuk menuntut hak atas infrastruktur yang layak dan alam yang sehat di tanah kelahiran kita sendiri?
Membumikan Kembali Empati
Tulisan ini sama sekali tidak berniat menyuruh Anda berhenti peduli pada Palestina, atau melarang Anda membaca berita tentang Iran. Menolak penindasan global dan memahami peta politik dunia adalah tanda bahwa kita adalah manusia yang waras, berwawasan, dan punya hati nurani.
Namun, empati yang sejati seharusnya tidak pilih kasih atau pilih tempat. Sungguh sebuah ironi yang getir jika kita mengutuk kehancuran kota-kota di Timur Tengah, sementara kita diam seribu bahasa saat jalan-jalan di kecamatan kita sendiri hancur lebur bak kubangan kerbau akibat keserakahan industri tambang pasir.
Jangan sampai nanti, ketika sungai-sungai di Ponorogo sudah tak lagi mengalirkan kehidupan, ketika seluruh jalanan kita sudah berubah jadi jalur maut yang berdebu dan penuh lubang, kita baru terbangun dan sadar: kita telah sukses menjadi "pengamat dunia" yang hebat, tetapi gagal total menjaga rumah tempat kita tidur dan hidup sehari-hari.
Mari tetap dongakkan kepala untuk melihat dunia, tetapi jangan lupa tundukkan pandangan untuk merawat bumi Ponorogo tempat kita berpijak hari ini.


