Seputarponorogo.com, Ponorogo-Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, suasana sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) di Kabupaten Ponorogo tampak berbeda dari hari biasa. Sejak pagi hari, Senin (16/2/2026), ribuan warga memadati area makam untuk melaksanakan tradisi bersih makam dan ziarah kubur.
Aktivitas turun-temurun ini menjadi bagian penting dari persiapan spiritual masyarakat dalam menyongsong bulan suci. Di berbagai sudut Bumi Reog, warga terlihat membawa cangkul, sabit, hingga sapu lidi untuk membersihkan area pusara keluarga.
Lebih dari sekadar kerja bakti, tradisi ini menyimpan makna kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta refleksi diri menjelang Ramadan.
1. Tradisi Turun-Temurun Jelang Ramadan
Tradisi bersih makam di Ponorogo telah berlangsung lintas generasi. Setiap menjelang bulan puasa, warga hampir serempak mendatangi makam keluarga untuk melakukan pembersihan sekaligus memanjatkan doa.
Kegiatan ini menjadi simbol kesiapan batin dalam menyambut Ramadan 1447 H. Selain menjaga kebersihan fisik makam, masyarakat juga memaknai momen ini sebagai upaya membersihkan hati.
2. Ribuan Warga Gotong Royong Padati TPU
Sejak pagi, sejumlah TPU di Ponorogo dipenuhi warga yang datang secara berkelompok. Mereka membawa peralatan sederhana seperti sabit, cangkul, dan sapu lidi untuk merapikan rumput liar serta membersihkan nisan.
Gotong royong massal ini menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan di tengah masyarakat. Tanpa komando resmi, warga dengan kesadaran sendiri menjaga kerapian area pemakaman.
3. Jadi Ajang Mempererat Silaturahmi
Sunardi, salah satu warga, menyebut kegiatan ini sebagai rutinitas keluarga setiap menjelang Ramadan.
“Ini kegiatan rutin setiap mau Ramadan tiba. Selain membersihkan makam, kami juga mengingat bahwa suatu saat semua akan kembali seperti ini. Kegiatan ini juga untuk mempererat silaturahmi antarwarga,” ujarnya.
Momentum ini membuat warga yang jarang bertemu dapat kembali berkumpul dalam suasana penuh makna dan kebersamaan.
4. Perantau Pulang Kampung Khusus untuk Ziarah
Menjelang Ramadan, sejumlah perantau asal Ponorogo turut pulang kampung untuk berziarah ke makam leluhur. Kehadiran mereka membuat suasana TPU semakin ramai.
Tradisi ini memperlihatkan kuatnya ikatan emosional masyarakat dengan tanah kelahiran serta nilai penghormatan terhadap keluarga.
5. Suasana Religius Terasa Kental
Pemandangan serupa terlihat di Makam Gedhe Kelurahan Tonatan. Warga kompak melakukan pembersihan menyeluruh sebelum memanjatkan doa bersama keluarga.
Lurah Tonatan, Agus Sudibyo, menyebut penataan makam sangat penting agar peziarah merasa nyaman dan khusyuk saat berdoa.
“Tujuannya supaya bersih dan nyaman untuk berziarah. Biasanya menjelang Ramadan banyak warga dari luar kota yang pulang kampung untuk ziarah ke makam leluhur,” jelasnya.
6. Simbol Refleksi Diri Menyongsong Ramadan 1447 H
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, bersih makam menjadi momen refleksi diri bagi masyarakat Ponorogo. Ziarah kubur mengingatkan bahwa kehidupan bersifat sementara dan setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.
Di tengah dinamika modern, tradisi ini membuktikan bahwa nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan penghormatan kepada leluhur tetap terjaga kuat di Ponorogo.
Ramainya TPU jelang Ramadan bukan sekadar rutinitas, tetapi juga cerminan budaya religius yang hidup dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.


