![]() |
| Kunjungan berkesan dari Plt. Bupati Ponorogo, Ketua DPRD Ponorogo, dan Kakan Kemenag Kabupaten Ponorogo di stand MAN 2 Ponorogo |
PONOROGO - Pameran teknologi kerap diasosiasikan dengan deretan perangkat canggih yang dingin, rumit, dan berjarak dari realitas keseharian masyarakat awam. Namun, asumsi tersebut runtuh seketika saat melangkah ke stan pameran milik MAN 2 Ponorogo dalam ajang Innotech Ponorogo Expo 2026 yang dihelat di Alun-Alun Ponorogo pada 3 hingga 5 November lalu. Alih-alih memamerkan gawai futuristik tanpa jiwa, madrasah ini justru menghadirkan karya-karya digital yang bernapas hangat: merangkul kaum difabel, merawat kesadaran sejarah, dan menyuarakan perlindungan sosial lewat sentuhan kreativitas siswa.
Ajang pameran inovasi yang berlangsung selama tiga hari itu seolah menjadi panggung pembuktian bahwa teknologi paling bernilai bukanlah yang paling mahal, melainkan yang paling solutif bagi sesama. Di tengah hiruk-pikuk pengunjung yang memadati pusat kota, karya-karya besutan pelajar MAN 2 Ponorogo berhasil membetot perhatian publik berkat misi kemanusiaan dan kebudayaan yang diusungnya.
![]() |
| Dwi Agus Prayitno, SH. M.Si., Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo melihat dari dekat di stand MAN 2 Ponorogo dipandu guru dan siswa |
Sorotan utama jatuh pada sebuah inovasi game edukasi tiga dimensi bertajuk Klowana, singkatan dari Klono Sewandana Adventure Nusantara. Permainan digital ini dikembangkan secara khusus bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai medium interaktif guna membantu siswa dengan disabilitas pendengaran di lingkungan madrasah. Di dalam petualangan virtual tersebut, pesan-pesan krusial tentang perlindungan diri diramu secara apik. Anak-anak tuna rungu diajak mengenali bentuk-bentuk perundungan atau bullying, memahami hak-hak pribadi, hingga mempelajari tata cara menyampaikan kebutuhan serta mengakses layanan konseling manakala mereka menghadapi masalah.
Selama ini, edukasi mengenai pencegahan perundungan dan hak perlindungan anak kerap disampaikan melalui metode konvensional yang terkadang monoton dan sulit diakses secara merata. Melalui Klowana, batasan-batasan komunikasi itu dilebur ke dalam pengalaman visual yang intuitif. Para siswa penyandang kebutuhan khusus kini memiliki ruang belajar mandiri yang lebih ramah, memberi mereka keberanian untuk bersuara dan mengenali batasan diri di tengah ekosistem sosial sekolah.
![]() |
| Foto bersama Ketua DPR Kabupaten Ponorogo saat di stand MAN 2 Ponorogo |
Komitmen mendalam terhadap pendidikan tanpa diskriminasi ini ditegaskan oleh Pembimbing Riset Sosial Humaniora MAN 2 Ponorogo, Wiretno. Menurutnya, napas inklusivitas telah menjadi fondasi yang melekat pada identitas madrasah.
"Kami memang madrasah yang inklusif, jadi tidak membeda-bedakan segala kebutuhan belajar bagi semua murid kita," ungkap Wiretno saat ditemui di sela-sela pameran pada Kamis (5/11/2026). Baginya, keragaman cara belajar anak menuntut para pendidik untuk berpikir melampaui batasan konvensional, menerjemahkan empati ke dalam bentuk riset dan karya nyata.
Tidak berhenti pada gim interaktif untuk disabilitas pendengaran, kreativitas siswa MAN 2 Ponorogo kembali berlanjut lewat inovasi website berbasis format tiga dimensi. Platform digital ini didedikasikan untuk mengenalkan situs sejarah lokal yang sarat makna, yakni Sendang Beji dan Sirah Kateng. Menariknya, situs web interaktif tersebut dirancang agar ramah diakses oleh teman-teman tuli di Ponorogo, menjembatani keterbatasan akses informasi sejarah daerah.
Melalui terobosan ini, warisan masa lalu tidak lagi terasa usang atau sekadar tersimpan di dalam lembaran teks buku sejarah yang kaku. Perpaduan antara narasi sejarah, kepedulian lingkungan terhadap pelestarian sumber daya air, dan teknologi visual modern berhasil melahirkan media pembelajaran yang memikat minat generasi muda. Sejarah lokal diangkat kembali dengan cara pandang yang segar, membuktikan bahwa kecintaan pada budaya daerah bisa berjalan seiring dengan penguasaan teknologi digital.
![]() |
| Kunjungan dari Kemenag dan tamu asing di stand MAN 2 Ponorogo |
Semangat inovasi yang hidup di lingkungan MAN 2 Ponorogo tentu tidak lahir dalam ruang hampa. Kepala MAN 2 Ponorogo, Agung Drajatmono S. Pd.,M.Pd , menjelaskan bahwa keikutsertaan lembaganya dalam Innotech Ponorogo Expo 2026 merupakan bagian dari ikhtiar panjang untuk memupuk budaya riset di kalangan peserta didik. Pihaknya senantiasa mendorong para siswa agar tidak cepat berpuas diri dan terus menghasilkan karya yang berdampak langsung bagi masyarakat luas.
Capaian para siswa madrasah ini pun terbentang luas melampaui batas arena pameran. Rekam jejak prestasi mereka mencakup berbagai bidang kompetisi bergengsi, mulai dari keberhasilan merebut Juara 1 Penulisan Sejarah Lokal tingkat Jawa Timur hingga berbagai penghargaan di level perguruan tinggi dan pameran inovasi regional.
"Melalui keikutsertaan di Ponorogo Innotech 2026 ini, MAN 2 Ponorogo berharap dapat terus menginspirasi masyarakat luas melalui karya teknologi yang solutif, ramah disabilitas, serta sarat akan muatan edukasi dan budaya lokal," tutur Agung dengan penuh optimisme.
Apresiasi tinggi atas dedikasi para pelajar tersebut turut disuarakan oleh Ketua DPRD Ponorogo, Dwi Agus Prayitno. Saat menyempatkan diri menyambangi stan MAN 2 Ponorogo, ia mengaku terkesan dengan ketajaman visi para siswa yang mampu mengawinkan kemajuan teknologi dengan pelestarian akar budaya daerah.
Menurut Dwi Agus, pemanfaatan medium digital merupakan strategi yang paling relevan untuk mendekatkan warisan sejarah kepada generasi masa kini yang lekat dengan ekosistem digital. Lebih jauh lagi, ia memuji orientasi riset madrasah yang menempatkan pendidikan inklusif sebagai arus utama. Pengembangan media pembelajaran yang ramah disabilitas diyakini mampu merobohkan tembok pembatas sosial, membuka pintu seluas-luasnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak pendidikan yang setara, sekaligus memperkuat benteng pertahanan sekolah dari ancaman perundungan.
"Semoga karya dari siswa MAN 2 Ponorogo bisa memberi manfaat maksimal bagi kemajuan pendidikan dan pelestarian sejarah Ponorogo," pungkas Dwi Agus menutup kunjungannya.
Pada akhirnya, Innotech Ponorogo Expo 2026 meninggalkan catatan penting tentang bagaimana teknologi seharusnya diposisikan. Di tangan para pelajar MAN 2 Ponorogo, teknologi bertransformasi menjadi lengan panjang kepedulian sosial—alat untuk melindungi yang rentan, merangkul mereka yang selama ini terpinggirkan oleh keterbatasan, dan menghidupkan kembali denyut sejarah lokal yang hampir terkikis zaman. Di sanalah letak esensi sejati dari sebuah inovasi: bukan pada seberapa rumit kode program yang ditulis, melainkan pada seberapa besar kebaikan yang mampu dihadirkan bagi kehidupan sesama.



