Iklan

📢 Pasang Iklan Disini

Menguak Alasan Keluarga Pasung ODGJ di Ponorogo: Dilema atau Paksaan?

Seputarponorogo.com
Kamis, 05 Februari 2026
Last Updated 2026-02-05T00:00:00Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Pasang Iklan di Sini
Jangkauan luas, harga terjangkau
📲 Hubungi via WhatsApp

Menguak Alasan Keluarga Pasung ODGJ di Ponorogo
Seputarponorogo.com, PONOROGO – Di sebuah sudut desa di Kecamatan Sawoo, suara gemerincing rantai besi bukan lagi hal asing bagi telinga tetangga sekitar. Di balik dinding kusam sebuah bangunan kecil yang terpisah dari rumah utama, seorang pria paruh baya menghabiskan dua dekade hidupnya dalam keterbatasan. Fenomena ini bukan cerita fiksi, melainkan realitas pahit yang masih menghiasi catatan Dinas Kesehatan Ponorogo hingga awal tahun 2026.

Meski Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah gencar mendeklarasikan program "Bebas Pasung", nyatanya masih ada keluarga yang memilih jalan sunyi ini. Pertanyaannya bukan lagi "siapa yang dipasung?", melainkan "mengapa keluarga sampai hati melakukannya?". Menggali jawaban atas pertanyaan ini membuka tabir dilema antara rasa sayang, ketakutan, dan keputusasaan yang mendalam.

Dilema Keamanan: Antara Cinta dan Keselamatan

Bagi masyarakat awam, memasung anggota keluarga mungkin terlihat kejam. Namun, jika kita berbicara dengan para wali ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), alasan pertama yang selalu muncul adalah keamanan bersama.

Banyak kasus ODGJ berat di Ponorogo yang menunjukkan gejala agresivitas tinggi. Mbah Kirno, salah satu warga yang baru-baru ini dievakuasi, dilaporkan sering mengamuk dan membawa senjata tajam yang membahayakan nyawa anggota keluarga serta tetangga. Dalam kondisi ekonomi yang sulit dan akses obat yang terputus, keluarga merasa tidak memiliki pilihan lain selain "mengamankan" sang pasien agar tidak terjadi tragedi berdarah.

"Kami tidak tega, tapi kalau dia keluar dan melukai anak kecil di tetangga, siapa yang mau tanggung jawab?" ungkap salah satu kerabat pasien yang enggan disebutkan namanya. Di titik ini, pasung dianggap sebagai instrumen perlindungan, meski secara medis dan hak asasi manusia, hal itu sangat keliru.

Jeratan Ekonomi: Biaya Pengobatan vs Isi Perut

Kabupaten Ponorogo mencatat lebih dari 2.100 kasus ODGJ berat sepanjang tahun lalu. Mayoritas penderita berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Faktor ekonomi menjadi alasan kedua yang paling krusial.

Meskipun pengobatan di RSJ Menur atau fasilitas kesehatan di Ponorogo seringkali dicover oleh BPJS atau program pemerintah, biaya operasional harian tetap menjadi beban. Keluarga harus meninggalkan pekerjaan untuk mengantar pasien kontrol, menebus obat yang terkadang stoknya kosong, hingga biaya transportasi yang tidak sedikit dari desa terpencil.

Memasung seringkali menjadi "solusi" terakhir bagi keluarga yang harus tetap bekerja di sawah atau pasar. Tanpa ada yang menjaga di rumah, dan tanpa biaya untuk menyewa perawat atau menitipkan di panti rehabilitasi swasta, jeruji besi menjadi pilihan yang paling hemat biaya, meski dibayar dengan harga kemanusiaan yang sangat mahal.

Stigma Sosial dan Malu yang Mendarah Daging

Di masyarakat perdesaan, gangguan jiwa seringkali masih dikaitkan dengan hal-hal mistis—mulai dari kualat, terkena santet, hingga akibat mempelajari ilmu hitam yang salah. Stigma ini menciptakan rasa malu yang luar biasa bagi keluarga.

Memasung bukan hanya soal menahan fisik pasien, tapi juga "menyembunyikan" aib dari pandangan publik. Keluarga khawatir jika anggota keluarga mereka yang ODGJ berkeliaran dan bertingkah aneh, status sosial keluarga akan jatuh. Rasa malu yang mendarah daging ini membuat banyak kasus pasung tidak terlaporkan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya ditemukan oleh perangkat desa atau relawan kesehatan dalam kondisi yang memprihatinkan.

Putusnya Rantai Informasi dan Dukungan Medis

Pemerintah memang menyediakan fasilitas, namun distribusi informasi belum merata ke pelosok-pelosok desa di Ponorogo. Banyak keluarga yang tidak tahu bahwa ODGJ bisa dikontrol dengan obat-obatan rutin (farmakoterapi). Mereka beranggapan bahwa sekali gila, maka akan gila selamanya.

Ketidaktahuan bahwa gangguan jiwa adalah penyakit medis—bukan kutukan—membuat keluarga kehilangan harapan. Ketika harapan mati, mereka berhenti mencari kesembuhan dan beralih ke metode pengurungan. Selain itu, kelelahan mental (caregiver burnout) yang dialami anggota keluarga yang merawat ODGJ selama bertahun-tahun tanpa dukungan psikologis membuat mereka akhirnya mati rasa dan memilih jalan pasung.

Menuju Ponorogo Bebas Pasung 2026

Langkah agresif Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Ponorogo di awal tahun 2026 ini patut diapresiasi. Evakuasi besar-besaran dan penyediaan tempat rehabilitasi di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, membuktikan bahwa pemerintah mulai hadir.

Namun, evakuasi fisik saja tidak cukup. Untuk benar-benar menghapus praktik pasung di Bumi Reog, diperlukan pendekatan yang menyentuh akar masalah:

1. Edukasi Massif: Menghapus stigma bahwa ODGJ adalah aib.
2. Dukungan Ekonomi: Memastikan keluarga pasien mendapatkan bantuan sosial agar beban hidup mereka tidak semakin berat.
3. Layanan Jemput Bola: Petugas kesehatan yang aktif mendatangi rumah-rumah di pelosok untuk memastikan stok obat tetap dikonsumsi.

Memahami mengapa keluarga memasung bukan berarti membenarkan tindakan tersebut. Ini adalah upaya untuk melihat bahwa di balik rantai yang mengikat kaki para ODGJ, ada hati keluarga yang sebenarnya juga "terpasung" oleh kemiskinan, ketidaktahuan, dan rasa takut.

Ponorogo hanya akan benar-benar bebas pasung ketika setiap keluarga merasa aman, didukung secara medis, dan tidak lagi merasa malu memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Ini adalah tugas kolektif kita—pemerintah, media, dan masyarakat—untuk memberikan "kunci" kebebasan bagi mereka yang telah lama terlupakan dalam gelap.


Reporter: N/A
Editor: N/A

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Hari Jadi Ponorogo

📢 Pasang Iklan Disini