Iklan

📢 Pasang Iklan Disini

Di Wilis, Belanda Pergi Tinggalkan Robusta

Redaksi
Jumat, 29 Agustus 2025
Last Updated 2025-08-28T23:07:20Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Pasang Iklan di Sini
Jangkauan luas, harga terjangkau
📲 Hubungi via WhatsApp

SEMBARI "nyepi" di Gunung Wilis, untuk sementara waktu menjauh dari keramaian kota, belakangan ini saya kerap "healing" tipis-tipis di lerengnya. Biar sehat dan segar sesekali menjelajahi jalan desa. Berjalan-lah mulai dari Ngebel, Pulung, Sooko (Ponorogo), Bendungan (Trenggalek), hingga kecamatan Pagerwojo (Tulungagung). Sesekali di tengah jalan mampir ke warung untuk ngopi dan icip-icip jajanan ndeso. Telo godok, telo goreng, atau gethuk. Biar kian nenambah warna kehidupan.

Dan, jalan yang saya lalui itu di antaranya merupakan rute bus Damri (jalur perintis) Tulungagung-Ponorogo Pp. Selain itu, seruas di antaranya (Pagerwojo) merupakan rute "Perang Gerilya Panglima Soedirman" dalam menghadapi agresi kedua Belanda (1948-1949). Healing tipis-tipis ini alih-alih sebagai bentuk "napak tilas" perjuangan Panglima Soedirman menyongsong HUT Ke-80 RI; 17 Agustus 2025.

Jalur yang saya jelajahi medannya naik turun. Naiknya tajam, turunnya terjal, berkelok-kelok menukik pula. Ruasnya hanya cukup untuk bersimpangan mobil --yang satu berhenti--karena sempit. Badan jalannya ada yang bersisa aspal, berpoles cor semen, dan ada batuan makadam. 
Berlubang menganga dan bergelombang. Untuk melalui jalur --yang diproyeksikan sebagai program Lingkar Wilis-- ini butuh perjuangan. Meski begitu, bagi orang yang suka berpetualang atau penghobi "nggowes", jalur ini sangat mengasyikkan. Menantang.

Lereng Wilis memiliki iklim udara dingin nan sejuk. Lazimnya udara alam pegunungan. Panorama alamnya sungguh eksotik. Berhampar lembah dan ngarai nan hijau. Elok dilihat mata, menyenangkan hati, dan menenteramkan jiwa. Amboi.


Saya jadi teringat saat tour ke puncak Uludag, Bursa, Turki. Sebelum mencapai puncak Uludag yang bersalju itu, di sepanjang jalan yang naik tajam dan berliku selalu disuguhi hamparan pohon pinus (gimbal). Begitu pula di lereng Wilis sisi Ponorogo-Trenggalek, di sepanjang jalan hutannya ditumbuhi pohon pinus. Ada pula pohon-pohon tua seperti kesambi, serut, dan mahoni di kanan kiri badan jalan.

Bedanya tak ada pohon maple, yang daunnya ada yang kuning, orange, dan pink itu. Juga tidak ada hamparan kebun anggur dan buah zaitun. Singkatnya panorama lereng Wilis, jalur Ponorogo-Trenggalek, tak jauh beda dengan di Bursa, Turki. Layak dijelajahi.

Panorama lereng Wilis kian mengenthalkan aroma pradesan dengan melihat geliat warganya mengolah kebun dan sawahnya. Belum lagi mereka ada yang menjemur hasil pertanian dan kebunnya di setiap halaman rumah atau tepian jalan. Ada yang menjemur panenan jagung, gaplek, cengkeh, kopi, dan hasil panenan lainnya.

Dari sekian aktivitas warga pradesan itu, yang paling menyita perhatian saya adalah orang menjemur kopi. Mengingat buah kopi yang baru dipetik dan dijemur terlihat bulat berwarna merah dan mengkilat. Selain tertarik dengan bentuknya, saya suka memilin dan menciuminya. Rasanya ada "chemistry". "Ini kopi jenis robusta. Banyak warga di lereng Gunung Wilis ini kebunnya ditumbuhi kopi Bistak," kata petani Ngebel. Bistak begitu warga Ngebel menyebut Robusta.

Tanaman kopi Robusta ini merupakan warisan dari simbah dan buyutnya dulu. Menurut sejarahnya, dulu di zaman kolonial Belanda, para penduduk desa dipaksa menanam tanaman kopi asal Kongo, Afrika ini. "Kalau di kota, Belanda meninggalkan gedung-gedung megah berarsitektur Eropa dan kereta api, kalau di desa di lereng Wilis ini meninggalkan kopi. Jadi, kopi Wilis ini merupakan peninggalan kolonial Belanda," kata pemuda Ngebel.

Kopi Robusta asal lereng Gunung Wilis ini, dulu konon sangat disukai oleh orang-orang Eropa. Kolonial Belanda saat itu memang membawa kopi Robusta dari lereng Wilis untuk dipasarkan di Eropa. Bahkan ada warga Belanda yang mendirikan pabrik pengolahan kopi di lereng Wilis, tepatnya di Desa Dompyong Kecamatan Bendungan, Trenggalek. 

Warga Belanda yang mendirikan pabrik pengolahan kopi itu bernama Meneer Van Dillem. Bekas pabriknya kini oleh Pemkab Trenggalek dijadikan objek wisata yang diberi nama 'Agrowisata Dillem Wilis".

"Sayang kopi peninggalan Belanda itu tak dirawat dengan maksimal, malah pada tahun 1970-an tanaman kopi banyak yang dibabat. Karena saat itu penduduk beralih ke cengkeh. Itu khususnya petani Trenggalek dan Tulungagung. Tahun itu, komoditas cengkih memang harganya sangat mahal, seperti harga emas," jelas petani Dompyong.

Berbeda di Ponorogo, saat itu tidak semua petaninya membabati pohon kopinya diganti dengan cengkih, khususnya di daerah Ngebel. Untuk itulah hingga kini banyak petani Ngebel, khususnya yang di pucuk gunung seperti daerah Talun, Sedayu, Gondowido masih merawat kopi robusta. Selain itu petani Ngebel juga menanam durian, manggis, petai, nangka, kelapa, dan pohon aren.

Pasca kemerdekaan, hasil kopi robusta Ngebel selama ini banyak diambil oleh perusahan kopi dari kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Jogja dan Semarang. Hanya beberapa warganya yang mampu mengolah sendiri (roasting), sampai pada olahan kopi bubuk yang bisa dipasarkan. "Ini karena warga desa terbentur dengan pemasaran dan permodalannya. Sehingga petani sampai saat ini cukup menerima untuk mengolah kebunnya saja, daripada mengolah panenannya," pungkas petani. Meski pahit rasanya, bagi petani di Ngebel, tanaman kopi tetap menjadi tanaman menyegarkan untuk kehidupannya. Merdeka! ()


Penulis: Cak Wot. Peracik "Kopi Djiwo" Kopi Khas Ngebel Ponorogo
Editor: Sugeng Prasetyo

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Hari Jadi Ponorogo

📢 Pasang Iklan Disini