SeputarPo

Museum dan Galeri Seni untuk Yang Terkasih


Oleh : 
Sarah Vanesia
Anggota Komisi Pemenangan Pemilu DPP Partai Demokrat

SABTU, 22 Februari 2020 lalu menjadi momen bersejarah bagi keluarga besar SBY. Bagaimana tidak, rencana keluarga untuk membuat sebuah museum sejak dulu akan mulai direalisasikan dengan peletakan batu pertama. Museum yang rencananya diberi nama “Museum & Galeri Seni SBY ANI” ini berlokasi di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, Jawa Timur, tidak jauh dari kediaman SBY dan keluarga.

Mengapa Pacitan dan bukan di sekitar Jakarta, mengingat saat ini SBY dan keluarga tinggal di Jakarta? Pacitan merupakan sebuah kota kecil yang dicintai SBY dan Ani Yudhoyono. Bagi SBY tentu jelas, ada alasan historis, SBY lahir dan besar di sana. Namun, bagi Ani Yudhoyono, kecintaan itu berlangsung begitu saja. Pada suatu pertemuan, SBY sempat menceritakan bahwa mendiang ibu negara keenam itu sangat mencintai Pacitan, meskipun Beliau tidak lahir dan besar di sana. SBY pun mengakui bahwa Ani Yudhoyono selalu senang diajak ke Pacitan, tidak peduli sudah berapa kali mereka menjelajahi wilayah itu. Kecintaan Ani Yudhoyono dan kenangan masa lalu SBY inilah yang mengantarkan kesepakatan bahwa Pacitan adalah satu-satunya tempat yang paling cocok untuk museum; Pacitan sebagai kota yang dicintai keduanya dengan museum sebagai tanda cinta keluarga kepada mendiang Ani Yudhoyono.

Secara garis besar, selain tanda cinta terhadap Ani Yudhoyono, museum tersebut dapat dianggap sebagai jejak dan catatan perjalanan seorang SBY, anak dari desa terbelakang yang mampu menjadi orang nomor satu di Indonesia. Perjalananan SBY merupakan bukti nyata bahwa hidup yang serba kekurangan bukanlah akhir. Selama dijalani setulus hati, semua kebaikan dan kesuksesan akan menyertai. Seperti yang diketahui bersama, SBY bukan lagi seorang anak kampung yang serba kekurangan, melainkan Presiden Indonesia pertama yang dipilih langsung oleh rakyat selama dua periode.

Wacana membangun museum ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, saat Ani Yudhoyono dirawat dan berjuang melawan penyakitnya pun pembahasan soal museum tidak pernah berhenti. Dari cerita SBY, Ani Yudhoyono selalu bersemangat untuk menata setiap sudut museum. Beliau bahkan memiliki keinginan untuk membangun sebuah rumah kecil di belakang agar merasa lebih dekat dengan museumnya.

Sayangnya, Tuhan punya rencana lain. Ani Yudhoyono telah pergi sebelum museumnya berdiri. Sepeninggal Beliau, penataan museum akan dibagi menjadi dua klaster besar, yakni museum dan galeri seni. Di museum, akan ada sekitar dua puluhan tema besar yang menaungi setiap koleksi. Nantinya, setiap tema akan menampilkan keunikan dan ciri khas; Setiap tema punya nilai historis dan cerita tersendiri, misalnya saat Pak SBY lahir dan besar di Pacitan, saat menempuh pendidikan militer di Akabri, menjalani penugasan militer, menjadi menteri, mengikuti Pilpres 2004, hingga masa pemerintahan, dan masih banyak lagi.

Untuk Galeri Seni Ani Yudhoyono sendiri, akan diisi dengan koleksi seni pribadi, termasuk lukisan, patung, kain batik, kain tenun, dan karya seni lainnya. Koleksi karya seni pribadi Ani Yudhoyono, terutama seni kriya, sangat banyak jumlahnya. Semasa hidup, Beliau sangat mencintai seni kriya nusantara. Dalam biografinya, diceritakan bahwa Ani Yudhoyono selalu menyempatkan diri hadir di berbagai pameran-pameran seni kriya. Setiap tahunnya, sederet acara rutin disambangi untuk mengapresiasi pengrajin lokal. Beliau berharap agar budaya berkarya pengrajin tetap hidup dan nilai seni lokal terus lestari.

Museum yang diharapkan dapat selesai dan dinikmati publik pada 2022 atau 2023 ini juga merupakan gambaran kedekatan keluarga SBY satu sama lain. Bagaimana tidak, semua konsep dan jalannya pembangunan museum melibatkan seluruh anggota keluarga, tidak terkecuali Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Selama Almh. Ibu Ani sakit dan dirawat di Singapura, Ibas setia menemani ibunda tercinta. Setiap ada waktu luang yang memungkinkan, Beliau membawa serta istri tercinta dan ketiga anaknya mengunjungi Ibu Ani dan menemani Pak SBY saat berjaga. Dari interaksi dengan Ibu Ani inilah Ibas mengetahui bahwa museum ini betul-betul berarti dan dinanti oleh orang tuanya. Oleh karena itu, sesibuk apapun Ibas dengan jabatannya, Beliau tidak sungkan untuk terjun langsung menjadi salah satu inisiatornya.

Siapakah Ibas? Beliau merupakan anak kedua Pak SBY yang sedang menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat dan salah satu anggota DPR RI VI - Perdagangan, Perindustrian, Koperasi UKM, BUMN, Investasi dan Standarisasi dari Partai Demokrat Dapil Jatim VII yang mencakup Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Ponorogo, dan Magetan. Kiprah Ibas di tanah air jarang sekali diberitakan. Padahal, Ibas cukup aktif, bahkan sebelum duduk di legislatif, Beliau telah lama aktif di organisasi tingkat nasional. Ibas lahir di Bandung pada 1980. Ayah tiga orang anak ini menamatkan pendidikan dasar dua belas tahunnya di Jakarta. Setelah lulus SMA, Ibas bertolak ke Australia dan menempuh pendidikan di Curtin University selama empat tahun. Setahun berselang dari kelulusannya, tepatnya pada 2006, Ibas kembali melanjutkan pendidikannya di Nanyang University selama satu tahun.

Sejak kuliah, keterkaitan Ibas dalam politik sudah terlihat sangat jelas. Ibas tercatat aktif di berbagai organisasi kampus. Hal itu pula yang agaknya mendasari Beliau untuk langsung terjun ke masyarakat sekembalinya dari Singapura. Pekerjaan perdana yang diembannya adalah Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat & Olahraga GM FKPPI. Saat masa jabatannya, ada capaian menarik yang diperoleh Ibas pada 2008, yakni kerja sama Ibas dengan Pemda Kab. Tanah Bumbu Kalsel dalam pembangunan rumah pintar yang langsung diresmikan oleh Ani Yudhoyono.
Keterlibatan Ibas di FKPPI sebagai Organisasi Anak Prajurit masih terus berlanjut, saat ini Ibas masih sebagai Ketua PP Keluarga Besar FKPPI

Setahun berselang dari masuknya Ibas ke GM FKPPI, yakni 2008, Beliau dipercaya untuk memegang satu jabatan tambahan, yakni sebagai Kepala Pengembangan Industri Derivatif Pertanian di Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Setelah menyelesaikan masa periode, gaya kepemimpinan yang tegas namun bersahaja membuat Ibas kembali dipercaya aktif di KADIN di periode selanjutnya (2010--2015). Akan tetapi, di periode ini, Ibas tidak lagi mengemban jabatan sebagai ketua departemen, melainkan sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Promosi Internasional, Budaya, dan Pariwisata yang mendorong majunya perekonomian daerah di kancah internasional.

Karier Ibas di dunia politik berawal dari masuknya Beliau ke Partai Demokrat pada 2005 lalu. Saat itu, Ibas mengemban tugas sebagai Ketua Departemen Kaderisasi dan Keanggotaan DPP Partai Demokrat hingga 2009. Setahun berselang, pada 2010 Ibas kembali memegang jabatan krusial di Partai Demokrat, yakni sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrat untuk satu periode. Pada periode selanjutnya, tepatnya di 2015, di partai yang sama, Ibas diminta memegang satu jabatan yang tidak kalah krusial, yakni sebagai Ketua Komisi Pemenangan Pemilu (KPP) Partai Demokrat.

Di periode kali ini, menjabatnya Ibas bertepatan dengan diselenggarakannya pilkada serentak pertama di tanah air. Sebagai pionir di kesempatan perdana itu, Ibas tentu ingin meninggalkan jejak yang baik. Partai Demokrat sendiri mempunyai target kemenangan sebesar 30%. Di tangan dingin Ibas, pada akhir Pilkada 2015 lalu, target tersebut tidak hanya tercapai, justru melampaui. Partai Demokrat berhasil mendapatkan persentase kemenangan sebesar 42% dengan persentase kader partai yang menempati posisi kepala dan wakil kepala daerah sebesar 47%.

Atas kontribusinya yang besar dan totalitas Beliau selama berkarier, Ibas memperoleh banyak capaian dan penghargaan. Pada 2009, Ibas mencetak prestasi sebagai caleg dengan perolehan tertinggi se-Indonesia dengan total 327.097 suara. Kemudian, pada 2012, Ibas mendapat penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia atas jasanya sebagai Pemrakarsa Pembuatan Wayang Beber Terpanjang. Tiga tahun berselang, pada 2015, Beliau kembali menorehkan prestasi dengan penghargaan Bintang Mapilu dari PWI. Setahun berselang, pada 2016, Ibas mendapat dua penghargaan sekaligus, yakni Peserta Terbaik dalam Pelatihan pada 2016 dari Partai Demokrat dan Bintang Jasa Partai Demokrat. Selanjutnya, pada 2018 lalu, Ibas kembali mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia atas jasanya sebagai Pemrakarsa Penari Rontek Terbanyak.

Ibas merupakan salah satu sosok di balik pembangunan Museum & Galeri Seni SBY ANI. Di sela kesibukan kerja dan kontribusi dalam pembangunan museum, sejak 2016 lalu Ibas terdaftar di program Doktoral Manajemen Bisnis IPB. Saat ini Beliau sedang menggarap disertasinya dan diharapkan bisa merampungkan strata tiganya dalam waktu dekat. Selain
Ibas, terlibat pula peran keluarga besar lainnya dalam pembuatan konsep hingga proses pembangunan. Diharapkan, tangan dingin Ibas dan keterlibatan keluarga lainnya dapat membuat pembangunan museum ini berlangsung sesegera mungkin dan menghasilkan hasil yang baik.
Keluarga besar SBY berharap agar bukti cinta pada mendiang Ani Yudhoyono ini dapat bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, baik sebagai sarana rekreasi ataupun edukasi. Diharapkan pula, museum ini akan menjadi salah satu museum terbaik di tanah air yang nantinya ramai dikunjungi masyarakat. Mari, simak terus kelanjutan pembangunannya dan jadilah saksi cinta keluarga untuk Ibunda terkasih!. (***/lis)

Related

REGIONAL 2566639487242992759

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

Populer

Terkini

Semua

item